Aug 15 2008
Keringanan BLI
Persib akan meminta peninjauan ulang dan keringanan pembayaran denda kepada Badan Liga Indonesia (BLI). Denda Rp 70 juta yang harus dibayarkan Persib dinilai terlalu memberatkan, jika harus dibayar sekaligus sebelum laga kandang Persib-Persitara berlangsung.
Berdasarkan hasil sidang komdis, Selasa (5/8), Persib dijatuhi denda Rp 20 juta, karena enam pemainnya mendapat kartu kuning saat menjamu Persik di Stadion Manahan, Solo. Mereka adalah Nova Arianto menit ke-8, Waluyo (42), Salim Alaydrus (50), Nyek Nyobe (51), Suwita Pata (53), dan Atep (90).
Persib juga harus menyelesaikan kewajiban membayar uang denda yang dijatuhkan pada Hariono Rp 50 juta. Denda itu dijatuhkan bersama sanksi larangan tiga kali bertanding, karena Hariono dianggap melakukan pelanggaran saat persib menjamu Persija.
“Sore ini kami akan segera faks suratnya, sebagai upaya banding dan peninjauan kembali. Kami berharap BLI bisa lebih bijak dalam menjatuhkan sanksi kepada pemain,” kata Ketua Harian Persib Edi Siswadi di Stadion Persib, Jln. Ahmad Yani, Bandung, Kamis (14/8).
Menurut Edi, aturan memang harus ditegakkan. Namun, dia menilai ada diskriminasi terhadap pelanggaran yang sama, tetapi tidak ditayangkan sehingga tidak terdeteksi oleh BLI dan pelakunya pun terbebas dari sanksi. “Saya juga berharap dan yakin, BLI dapat mengakomodisi keluhan dari pihak klub dan mempertimbangkan kembali sanksi untuk para pemain,” ujarnya.
Adapun keringanan yang akan diajukan Edi adalah besarnya nominal uang yang harus dibayar, juga sistem pembayarannya. “Kami akan coba mengajukan untuk bisa membayar 20% dari denda maksimal dan pembayarannya bisa dicicil. Karena, jika tidak begitu gaji pemain bisa habis dalam beberapa pertandingan saja,” katanya.
Menurut Edi, dalam klausul kontrak, sanksi yang ditimbulkan karena kesalahan pemain memang menjadi tanggung jawab pemain. Akan tetapi, denda Rp 50 juta yang dijatuhkan BLI kepada Hariono terlalu berat bagi seorang pemain.
“Saya sangat mendukung penegakan aturan atas satu kesalahan. Namun, dari segi implementasi tentunya BLI harus lebih arif menjatuhkan sanksi dan melihat dari sisi kejadian maupun kemampuan pemain. Apalagi, pemain yang bersangkutan memiliki loyalitas dan kontribusi berarti untuk tim nasional,” kata Edi.
Kalaupun jumlah nominal denda tidak bisa dikurangi, Manajer Persib Jaja Soetardja berharap, BLI bisa mengabulkan permohonan agar pembayaran denda bisa dilakukan secara bertahap. “Kalau harus dibayar sekaligus, berat,” ujarnya.
Untuk itu kata Jaja, PSSI bisa mengerti kesulitan keuangan yang sedang dialami klub, termasuk Persib. Dia menilai, semua klub peserta Liga Super Indonesia (LSI) 2008 pun akan berpendapat serupa, jika diharuskan membayar denda sebesar itu.
Sementara itu, latihan Kamis (14/8) sore, diisi pelatih Jaya Hartono dengan menggelar game internal. Pada babak pertama yang berlangsung selama 20 menit, Jaya membagi tim menjadi dua, biru dan hijau.
Tim hijau diperkuat Cecep sebagai penjaga gawang, Maman, Wildan Waluyo, Haris di belakang, Suwita, Eka, Hilthon, Cabanaz sebagai gelandang, sedangkan Arif dan Airlangga menempati posisi striker. Sementara tim biru diperkuat Edi Kurnia, Nyeck, Nova, Hafid, Irwan, Haryono, Gilang, Siswanto, Atep, Lopez, dan Bastos.
Pada babak kedua, Jaya melakukan rotasi pemain. Tim pun dibagi menjadi merah dan biru.
Tim merah terdiri dari Tema, Haris Nyeck, Nova Waluyo, Haryono, Cabanaz, Eka, Hilthon, Lopez, dan Bastos. Tim biru diisi Edi Kurnia, Maman, Wildan, Hafid, Irwan, Gilang, Siswanto, Atep Suwita, Arif, dan Airlangga. Hasilnya, 1-0 pada babak kedua, untuk kemenangan tim biru. Gol dicetak Airlangga.
“Pada babak pertama tempo permainan berjalan lambat, tetapi setelah saya lakukan rotasi di babak kedua, tempo meningkat. Ini hanay simulasi, formasi pemain hari ini bukan gambaran untuk menghadapi Persitara Sabtu ini. Secara keseluruhan, lini belakang persib sudah lebih baik,” ujar Jaya. (A-150/CA-168)***
Random Posts |
Leave a Reply







