Apr 28 2008
Dua Jam di Ruang Kelas
Oleh : Deni Ahmad Fajar
BAGI pemain Persib, duduk tidak kurang dari dua jam di ruang kelas mungkin lebih menyiksa dibanding tampil dalam waktu sama di lapangan hijau. Tapi Jumat (25/4), pemain-pemain Persib tidak bisa menolak ketika “digiring” ke ruang kelas gedung Pascasarjana Unisba, Jalan Purnawarman 59, untuk menyelesaikan soal-soal psikotes.
Selama dua jam itu pula, tampak pemandangan menarik yang lahir dari reaksi dan sikap pemain-pemain tim Maung Bandung saat menghadapi lembar-lembar soal psikotes. Ada yang serius, tapi ada juga yang kalem. Tapi yang gelisah juga ada. Seperti Hilton Moreira yang tidak sepenuhnya memahami soal karena kendala bahasa. Karena kendala bahasa ini pula, Jairon Feliciano Damasio undur diri sebelum psikotes berakhir.
Kesulitan yang dialami Hilton ternyata jadi berkah bagi rekan-rekannya karena punya kesempatan untuk sekadar melepas stres. Zaenal Arief, misalnya, berpikir sambil tertawa-tawa ketika menerangkan arti dari kata jorok yang ditanyakan Hilton.
Namun bukan berarti psikotes bagi para pemain Persib dilakoni dengan semangat main-main. Apalagi seperti dikatakan Jaya Hartono, hasil psikotes akan sangat membantu tim pelatih untuk lebih mengerti sifat dan karakter pemain.
“Psikotes akan membantu dan memudahkan tim pelatih dalam membentuk kekuatan tim. Mudah-mudahan dengan tim yang kuat luar-dalam, Persib bisa mencapai prestasi tinggi,” kata Jaya.
Psikolog tim Persib Drs Hedi Wahyudi M Psi mengatakan, tujuan menggelar psikotes bukan untuk mengetahui kelemahan atau kelebihan pemain. “Dengan psikotes kita bisa lebih tahu kepribadian kita. Berbekal itu, kita akan lebih bisa meningkatkan kemampuan kita. Termasuk bagi pemain sepakbola yang selalu menghadapi tekanan, tantangan, dan bahkan putus asa selama menjalani pertandingan,” papar Hedi.(daf)
Tribun Jabar
Random Posts |
Leave a Reply







