62 views

Jul 25 2008

Suporter Kita Butuh Pembelajaran

BUKAN sekali ini Komdis PSSI menjatuhkan hukuman bagi suporter sepak bola. Pada babak “Delapan Besar” Liga Djarum Indonesia musim lalu, PSSI juga menjatuhkan sanksi terhadap Aremania, pendukung Arema Malang. Saat Arema dikalahkan Persiwa Wamena di Stadion Brawijaya Kediri, Januari silam, Aremania ngamuk di lapangan. Aremania diganjar tidak boleh mengenakan atribut Arema di stadion seluruh Indonesia selama dua tahun.

Lagi-lagi aksi brutal penonton dipicu oleh keputusan wasit. tiga gol Arema dianulir oleh wasit. Hasilnya? Jaring gawang terbakar, wasit pun diadili langsung oleh suporter di lapangan. Rabu, 16 Januari 2008 adalah hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh Aremania. Malam itu, tim kesayangannya Arema melawan Persiwa Wamena. Harapan kemenangan Arema membayangi Aremania.

Sayang, harapan itu pupus ketika wasit Jajat Sudrajat menganulir tiga gol yang diciptakan oleh skuad “Singo Edan”. Setelah wasit menganulir gol untuk kedua kalinya, pertandingan sempat dihentikan selama 15 menit karena Aremania mendekati pagar pengaman dan melempari asisten wasit Yuli Surato dengan batu. Tak bisa mengelak, Yuli jatuh tersungkur.

Pertandingan kemudian bisa dilanjutkan kembali. Asisten wasit Suhaidi Yunus menggantikan Yuli Surato. Situasi kembali memanas dan tidak terkendali ketika pada menit ke-52 wasit kembali menganulir gol Emir Mbamba. Kedudukan 2-1 untuk kemenangan Persiwa.

Lima belas menit sebelum pertandingan berakhir, seorang Aremania menerobos lapangan dan memukul seorang asisten wasit. Aksi tersebut diikuti oleh masuknya Aremania yang lain ke dalam lapangan. Aremania mengamuk hingga membakar jaring gawang dan papan iklan serta pagar pembatas lapangan.

Pertandingan pun dihentikan. Aparat keamanan kewalahan mengatasi aksi suporter Arema ini. Kerusuhan di Stadion Brawijaya itu memnyebabkan Komdis PSSI mengganjar hukuman bagi Aremania. Tiga tahun dilarang menggunakan atribut Arema di stadion mana pun di Indonesia.

“Kami naik banding. Dibantu oleh tim advokasi, kami akhirnya menempuh jalur hukum. Hukuman akhirnya dikurangi menjadi 2 tahun,” kata Surtato, Koordinator Aremania saat dihubungi “PR”, Kamis (24/7).

Ia menilai hukuman yang diganjar PSSI kepada Aremania merupakan bentuk dari sikap PSSI yang tidak adil. Tidak ada proses yang melibatkan mereka hingga PSSI menjatuhkan hukuman tersebut. “Tidak ada proses pemanggilan. Tidak ada pembicaraan. Tahu-tahu divonis. Tapi mereka tidak melihat penyebabnya,” katanya.

Menurut dia, wasit sebagai ujung pangkal peristiwa malam itu tidak pernah mendapatkan evaluasi PSSI. Hukuman itu melarang Aremania menggunakan atribut tim kebanggaannya. Tidak hanya kostum, tetapi juga syal dan bendera dengan identitas Arema. Namun penggunaan warna biru tetap diperbolehkan, asalkan tidak ada embel-embel Arema.

Pada mulanya, hukuman itu dipatuhi oleh Aremania. Tidak ada atribut Arema yang masuk ke stadion. Namun pada Piala Gubernur Jatim lalu, Aremania kembali mengenakan atribut “Singo Edan”. Tidak ada tindakan dari PSSI menyikapi pelanggaran ini.

Tidak ada reaksi dari PSSI ini justru membuat Aremania prihatin. Sebuah inkonsistensi justru ditunjukkan oleh si pengganjar hukuman.

Arema tidak pernah kehilangan pendukungnya akibat hukuman itu. Aremania tetap menjadi penyokong pertandingan “Singo Edan” dan tidak kehilangan identitasnya meski tanpa kostum. “Kami akan tetap mengikuti apa kemauan PSSI. Apa pun maunya kita akan ikuti. Tidak boleh pakai kostum ya tidak apa-apa. Kami masih punya alternatif lain,” kata Surtato. Pada Liga Super Indonesia (LSI) 2008, Aremania akan tetap menjalani hukumannya. Mereka tidak akan mengenakan kostum kebesarannya.

Pada laga Arema melawan Pelita Jaya Jabar di Stadion Gajayana Malang pada Minggu (27/7), mereka semua akan mengenakan kostum hitam-hitam sebagai tanda duka cita atas keputusan PSSI. Mereka juga telah menyiapkan spanduk besar bertuliskan “Tahanan PSSI”.

Apa yang terjadi dengan bobotoh Persib, tidak jauh berbeda dengan Aremania. Hanya lamanya hukuman yang membedakan. Bobotoh hanya diganjar satu tahun.

“Saran saya untuk bobotoh, sikapi hukuman ini dengan rileks saja. Gunakan saja atribut alternatif. Toh yang tidak boleh di stadionnya. Selama di jalan pakai saja atribut Persib atau Viking, begitu masuk stadion baru dilepas,” tuturnya.

Panglima Viking Ayi Beutik juga sedang menyiapkan langkah untuk menyikapi hukuman terhadap bobotoh. “Kami sedang membahasnya. Langkah kami tidak akan sama dengan Aremania karena atmosfer sepak bola di sana berbeda dengan di sini,” katanya.

Langkah tersebut tidak hanya sebatas menyiasati kostum, tetapi juga secara hukum. “Bersama tim advokasi, kami akan menyiapkan langkah hukumnya,” tutur Ayi.

Dukungan suporter sepak bola ternyata memang tidak dibatasi oleh seperangkat kostum yang membalut tubuh mereka. Kecintaan mereka terhadap sepak bola sudah tertanam kuat di sanubarinya.

Seharusnya, PSSI menyadari bahwa hukuman pelarangan kostum tidak akan membuahkan apa-apa. Suporter sepak bola kita membutuhkan sebuah proses pembelajaran untuk mencapai kedewasaan. Pelajaran itu tentunya hanya bisa diberikan oleh suatu lembaga yang bersih dan berwibawa. Sudahkah PSSI? (Catur Ratna Wulandari)***

Published by hevi.fauzan at 8:19 under Local News

Random Posts

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

For Daily News About PERSIB BANDUNG, Enter your email :